PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN PAI BERBASIS ICT DAN WEB (10)
PRINSIP-PRINSIP
PEMBELAJARAN PAI BERBASIS WEB DAN ICT
Makalah ini diajukan
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Desain Pembelajaran PAI Berbasis Web & ICT
Dosen Pengampuh:
Firmansah Kobandaha, M.Pd.I.
Disusun Oleh Kelompok 10:
Musdalifa A. Mangil (181012278)
Sri Yayu Nento (181012304)
Moh. Ikram Paputungan (181012282)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI )
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
(FITK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SULTAN AMAI GORONTALO
2019
KATA PENGANTAR
Assalamualaykum Wr.Wb…….
Bismillah, puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa
atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kelompok
kami dari Kelompok 9 dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN PAI BERBASIS WEB&ICT” pada Mata Kuliah Desain
Pembelajaran PAI Berbasis Web&ICT. Semoga makalah ini dapat menjadi salah
satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Juag terima kasih terhadap
Bapak Dosen dan teman sekalian yang membantu kami untuk menyelesaikan pembuatan
makalah ini.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalam bagi calon Guru era milenial agar dapar menjadi Guru
yang baik dalam menyampaikan pembelajaran. semoga kedepannya kami dapat
memperbaiki bentuk maupun isi dari malah ini sehingga dapat menjadi acuan yang
lebih baik.
Kami selaku penulis mengakui bahwa makalah ini masih
terdapat banyak kesalahan karena kurangnya pengalaman yang kami miliki. Oleh
karena itu, kami mengharapkan masukan-masukan dari Dosen dan juga teman-teman
sekali agar sempurnanya makalah ini. Sekian dari kami.
Wassalamualaykum
Wr.Wb…….
Gorontalo, 16 Mei 2019
Penulis, kelompok 10.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I: PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar Belakang........................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................... 1
C.
Tujuan
penulisan..................................................................................... 1
BAB II: PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A.
Konsep Dasar.......................................................................................... 2
B.
Prinsip-Prinsip
Pembelajaran PAI........................................................... 2
C.
Prinsip
Pembelajaran Berbasis Web dan ICT......................................... 11
D.
Penerapan
Prinsip-Prinsip Pembelajaran................................................ 12
BAB III: PENUTUP.............................................................................................. 14
A.
Simpulan ............................................................................................... 14
B.
Saran...................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pembelajaran merupakan
perpaduan dari dua aktivitas yaitu aktivitas belajar dan aktivitas mengajar.
Aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan
terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara mengajar itu sendiri dengan
belajar. Suatu pembelajaran akan bisa disebut berjalan dan berhasil dengan baik
manakala ia mampu mengubah diri peserta didik dalam arti yang luas serta mampu
menumbuhkembangkan kesadaran peserta didik untuk belajar, sehingga pengalaman
yang diperoleh peserta didik selama terlibat di dalam proses pembelajaran itu,
dapat dirasakan manfaatnya secara langsung bagi perkembangan pribadinya.
Kunci pokok pembelajaran ada pada
seorang guru atau pengajar tetapi ini bukan berarti dalam proses pembe;ajaran
hanya guru yang aktiv, sedangkan peserta didik pasif. Pembelajaran menuntut
keaktivan kedua pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Pembelajaran
yang hanya ditandai oleh keaktivan guru sedanbg peserta didik hanya pasif, pada
hakekatnya disebut mengajar. Demikian pula bila pembelajaran hanya di tandai oleh
peserta didik saja, dan tampa melibatkan keaktivan guru untuk mengelolahnya
secara baik dan terarah, maka hanya disebut belajar. Jadi, pembelajaran itu
merupakan perpaduan aktivitas mengajar dan belajar.
Namun,
kenyataannya banyak kita temukan pengajar atau guru agama dalam mengembangkan
pembelajaran sering tidak sesuai dengan apa yang di inginkan anak didik,
sehingga terjadi kejenuhan atau tidak suka paada pembelajaran Agama. Padahal
sebenarnya pendidikan Agama sangat penting dalam membangun mental religious
anak didik. Adapun untuk mengatasi kejenuhan-kejenuhan itu seorang pendidikan
perlu memotivasi anak didik atau membuat strategi yang sesuai dengan kondisi
anak didik, sehingga mereka bersemangat dan merasa senang dalam belajar dan
pendidik pun bisa mencapai tujuan yang di inginkan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
konsep dasar dari prinsip-prinsip pembelajaran?
2.
Apa saja prinsip-prinsip
pembelajaran PAI?
3.
Apa saja
prinsip pembelajaran berbasis Web dan Ict?
4.
Mengapa
prinsip-prinsip pembelajaran harus diterapkan?
C.
TUJUAN
PENULISAN
1.
Agar kita dapat
mengetahui bagaimana konsep dasar dari prinsip-prinsip pembelajaran PAI.
2.
Agar kita dapat
mengetahui macam-macam prinsip pembelajaran PAI.
3.
Agar kita dapat
mengetahui macam-macam pembelajaran PAI berbasis Web dan ICT.
4.
Agar kita dapat
mengetahui alasan dari prinsip pembelajaran ini diterapkan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KONSEP DASAR
Pengertian
pengelolaan pembelajaran adalah suatu upaya untuk mengatur (memanajemen,
mengendalikan) aktivitas pembelajaran berdasarkan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip pembelajaran untuk menyukseskan tujuan pembelajaran agar
tercapai secara lebih efektif, efesien dan prodduktif yang diawali dengan
penentuan strategi dan perencanaan, dan diakhiri dengan penilaian.[1]
Pembelajaran
merupakan aktivitas (proses) yang sistematis dan terdiri atas banyak komponen.
Masing-masing komponen pembelajaran tidak bersifat parsial (terpisah) atau
berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling
bergantung, komplementer, dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan
pengelolaan pembelajaran yang baik yang harus dikembangkan berdasarkan pada
prinsip-prinsip pembelajaran, dikembangkan segi dan strategi pembelajaran, di
rancang secara sistematis, bersifat konseptual tetapi praktis-realistik dan
fleksibel, baik yag mencakup masalah interaksi pembelejaran, pengelolaan kelas,
pendayagunaan sumber belajar (pembelajaran), maupun penilaian pembelajaran.[2]
Agar lalu
lintas pembelajaran bisa berjalan lancar, teratur, dan terhindar dari beberapa
hambatan yang mengakibatkan pembelajaran tidak berjalan lancar dan teratur,
serta kemungkinan-kemungkinan lain seperti fasilitas peserta didik,
ketidaksesuaian, penerapan metode, ketidakpahaman terhadap materi, keterasingan
seorang peserta didik dalam suatu kelas pembelajaran, dan lain-lainnya, maka
seorang guru harus mengerti, memahami, dan menghayati berbagai prinsip
pembelajaran sekaligus mengaplikasikannya. .
B.
PRINSIP-PRINSIP
PEMBELAJARAN PAI.
Prinsip-prinsip
pembelajaran ini sangat berkaitan dengan segala komponen pembelajaran, baik
yang menyangkut apa dan bagaimana peran guru dalam pembelajaran, kearah mana
pembelajaran harus dilaksanakan, maupun menyangkut apa, mengapa dan bagaimana
agar peserta didik terliba aktif dalam pembelajaran. [3]
1.
Prinsip
Aktivitas.
Mengajar adalah
proses membimbing pengalaman belajar. Pengalaman itu sendiri mungkin diperoleh
jika peserta didik dengan keaktifannya sendiri bereaksi terhadap lingkungannya.
Misalnya jika ingin memecahkan suatu problem, maka ia harus berfikir menurut
langkah-langkah tertentu. Jika ia ingin menguasai suatu keterampilan,maka ia
harus berlatih mengkoordinasikan otot-otot tertentu. Jika ingin memiliki
sikap-sikap tertentu, maka ia harus
memiliki sejumlahpengalaman emosional. Dan begitu seterusnya.
Belajar yang
berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun
psikis. Peserta didik yang memiliki aktivitas fisik ialah yang giat aktif
dengan aknggota badannya, membuat sesuatu, bermain atau berkerja, tidak hanya
duduk dan mendengarkan, melihat atau
hanya pasif. Sedangkan peserta didik
yang memiliki aktivitas psikis ialah yang daya jiwanya berkerja
sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran.
Kegiatan/keaktifan
fisik sebagai kegiatan yang tampak yaitu seperti peserta didik melakukan
percobaan, membuat kontruksi model, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan psikis
tampak bila peserta didik mengamati dengan teliti, memecahkan persoalan,
mengambil kesimpulan dan lain-lain. Pada saat peserta didik aktif fisiknya maka
dengan sendirinya psikisnya juga aktif. Karena itu keduanya itu satu kesatuan.
J. Piaget, pakar psikologi keturunan Swiss berpendapat bahwa “seorang anak
berfikir sepanjang ia berbuat. Tampa berbuat anak tak berpikir. Agar ia
berpikir sendiri (aktif), ia harus diberi kesempatan berbuat sendiri”. Seorang
guru hanya dapat menyajikan dan menyediakan bahan pelajaran, peserta didiklah
yang megolahnya dan mencernanya sendiri sesuai kemauan, kemampuan, bakat, dan
latar belakangnya.
Pada sekolah
yang bercorak tradisional, seperti model klasik, gurulah yang aktif melakukan
segala sesuatu untuk peserta didik sedangkan peserta didik hanya pasif, hanya
menerima apa yang diberikan dan di pikirkan oleh guru. Memang, menerima dan
mendengarkan sesuatu dari orang yang ahli ataau lebih berpengalaman memiliki
niai guna bagi individu/peserta didik. Tetapi, menerima dan mendengarkan itu
mesti di ikuti dengan membuat sendiri, memikirkan sendiri dan membuktikan
sendiri.
Terdapat
miss-understanding yang sering muncul bahwa keaktifan atau kegiatan disamakan
dengan menyuruh peserta didikmelakukan
sesuatu. haruslah dipahami, bahwa keaktifan atau kegiatan yang dimaksud tentu
jika peserta didiklah yang melakukan sesuatu ke arah perkembangan fisik dan
psikis. Supaya peserta didik dapar
mengekpresikan kemampuannya secara totalitas, perlu diberi kesempatan untuk
berbuat sendiri sehingga ia tidak hanya menggunakan telinga saja, tetapi mata,
tangan dan anggota tubuh lainnya ikut memikirkan, merasakan sesuatu dan
sebagainya.
Setelah
mengadakan penelitian, Paul B. Diedrich bahwa terdapat 177 macam kegiatan
peserta didik yang meliputi aktivitas fisik dan aktivitas psikis, yang antara
lain sebagai berikut:
a. Visual activities. seperti
membaca, memperhatikan gambar, percobaan, demontrasi, pekerjaan orang lain, dan
sebagainya.
b. Oral activities. Seperti menyatakan,
merumuskan, bertanya, member saran, mengeluakan pendapat, mengadakan, interview,
diskusi, instrupsi dan lain-lain.
c.
Listening
activities. Seperti mendengarkan uraian, music, pidato, percakapan, diskusi, dan sebagainya.
d.
Writing
activities. Seperti menulis cerita, karangan,
laporan, tes angket, menyalin dan sebagainya.
e.
Drawing
activities. Seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola, dan
sebagainya.
f.
Motor
activities. Seperti melakukan percobaan,
membuat kontruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara
binatang, dan sebagainya.
g.
Mental
activities. Seperti menganggap, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis,
melihat hubungan, mengambil keputusan dan lain sebagainya.
h.
Emotional
activities. Seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani, tenang gugup
dan sebagainya.
Prinsip aktivitas yang diuraikan di atas didasarkan pada pandangan
psikologi bahwa segala pengetahuan harus diperoleh melalui pengamatan (mendengar, melihat, melakukan, dan
sebaginya) sendiri, dan pengalaman sendiri.
2.
Prinsip
Motivasi
Perubahan-perubahan yang dipelajari
biasanya memberi hasil yang baik bilamana orang/individu mempunyai motivasi
untuk melakukannya, dan latihan kadang-kadang menghassilkan perubaha-perubahan
dalam motivasiyang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam prestasi[4]. Akan
tetapi perubahan-perubahan yang demikian menurut Walker bukan hasil belajar,
perubahan itu adalah akibat pengalaman yang di sebabkan motivasi. Perubahan
suatu motivasi akan berubah pula wujud, bentuk, dan hasil belajar. Ada tidaknya
motivasi seorang individu untuk belajar
samgat berpengaruh dalam proses aktivitas belajar itu sendiri.
Thomas M. Risk (1985)
memberikan pengertian motivasi sebagai usaha yang di sadari oleh pihak guru
untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik/pelajar yang menunjang
kegiatan kea rah tujuan-tujuan belajar.
Sehingga
jelaslah bahwa salah satu masalah yang di hadapi oleh guru untuk
menyelenggarakan pembelajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan
motivasi dalam diri peserta didik secara efektiff. Sering di temui beberapa
kesukaran yang dialami seorang guru untuk memotivasi peserta didiknya seperti:
a.
Realitas bahwa
guru belum memahami sepenuhnya akan motif
b.
Motif itu
sendiri bersifat perseorangan. Kenyataan menunjukkan bahwa dua orang atau lebih
melakukan kegiatan yang sama dengan motif berbeda, bahkan bertentangan bila
ditinjau dari segi nilainya
c.
Tidak ada
alat, metode, atau teknik tertentu yang
dapat memotivasi peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang
sama.
Beberapa cara
untuk mrenumbuhkan motivasi adalah melalui cara belajar yang bervariasi,
mengadakan pengilangan informasi, memberika stimulus baru misalnya melalui
pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, memberikan kesempata kepada
pesereta didik untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggukan media dan alat
bantu yang menarik perhatian peserta didik, seperti gambar, foto, diagram dan
sebagainya. Secara umum peserta didik akan terangsang untuk belajar (terlibat
aktif dalam prmbrlajaran).apabila ia melihat bahwa situasi pembelajaran
cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
Kebutuhan
keterlibat dalam pembelajaaran/belajar mendorong timbulnya motivasi dalam
dirinya (motivasi instrik atau ondogen), sedangkan stimulus dari guru atau dari
lingkungan belajar mendorong timbulnya motivasi dari luar (motivasi ekstrinstik
atau eksogen). Pada motivasi instrinstik peserta didik belajar karena belajar
itu sendiri dipandang bermakna (bermanfaat) bagi dirinya. Tujuan yang ingin
dicapai terletak pada perbuatan belajar itu sendiri, seperti menambah
pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Pada motivasi ekstrinstik, peserta
didik belajar bukan karena dapat membarikan makna baginya, melainkan karna
hadiah, penghargaan, atau menghindari hukuman atau celaan. Tujuan yang ingin
dicapai diluar dari kegiatan belajar itu. Maka pujian pada seorang peserta
didik yang menunjukkan prestasi belajjar merupakan salah satu upaya untuk
memberikan motivasi dari luar peserta didik.
Motivasi
ekstinstik sangat berkaitan erat dengan konsep reinforcemen atau penguatan. Ada
dua macam reinnforcemen, yaitu:
a.
Reinforcement
positif, sesuatu yang memperrkuat hubungan stimulus respon atau sesuatu yang
dapat memperbesar timbulnya suatu respon.
b.
Reinforcemen
negative, sesuatu yang dapat memperlemah timbulnya respon atau memperkecil
kemungkinan hubungan stimulus respon.
Dan
reinforcemen itu sendiri erat huibungannya dengan hadiah, hukuman, dan
sebagainya. Untuk memperbesar peranan peserta didik dalam aktivitas
pembelajaran.
3.
Prinsip
individualitas
Individu
sebagai manusia merupakan orang-orang yang memiliki pribadi/jiwa sendiri. Tidak
ada dua manusia yang sama persis. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang
satu berbeeda dengan individu lainnya.
Setiap guru
yang menyelenggarakan hendaknya selalu memperhatikan dan memahami serta
berupaya menyesuaikan bahan pelajaran dengan keadaan peserta didiknya, baik
yang menyangkut segi perbedaan usia, bakat, kemmPUn, intelegensia, perbedaan
fisik, watak, dan sebagainya.
Oleh Prof. S.
Nasution (1982) disarankan 4 cara untuk menyesuaikan pelajaran dengan
kesanggupan individual (prinsip individualitas), yaitu:
a.
Pembelajaran
individual
Peserta didik
menerima tugas yang diselesaikannya menurut kecepatan masing-masing.
b.
Tugas tambahan
Peserta didik
pandai mendapaat tugas tambahan, diluar tugas umum bagi seluruh kelas. Hubungan
kelas tetap terpelihara.
c.
Pembelajaran
proyek
Peserta didik
mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan minat serta kesanggupan.
d.
Pengelompokkan
menurut kesanggupan
Kelas dibagi
dalam beberapa kelompok yang terdiri atas peserta didik yang mempunyai kkesanggupan
yang sama.
4.
Prinsip
Lingkungan
Pembawaan yang
potensi dari individu yang bersifat umum dan dapat berkembang bermacam-macam
kenyataan hasil interaksi dengan lingkungannya. Pembawaan menentukan
batas-batas kemungkinan yang dapat dicapai oleh individu, tetapi lingkungan
menentukan menjadi individu dalam kenyataan. Antara pembawaan dan lingkungan,
keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi, sehingga terdapat jalinan
erat melekat.
Hasil penyelidikan dari para pakar
psikologi menyebutkan bahwa faktor pembawaan lebih menentukan dalam hal
intelegensi, fisik dan reaksi indrawi. Adapun factor lingkungan lebih
berpengaruh dalam hal pembentukan kebiasaan, kepribadian, sikap dan nilai, dan
sebagainya.
Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada diluar diri individu. Adapun lingkungan
pembelajaran merupakan segala apa yang bisa mendukung pembelajaran itu sendiri
yang dapat difungsikan sebagai “sumber pembelajaran” atau “sumber belajar”.
Bukan hanya guru dan buku/bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar. Apa yang
dipelajari peserta didik tidak hanya terbatas pada apa yang disampaikan guru
dan apa yang ada dalam textbook. Banyak hal yang dapat dipelajari dan dijadikan
sumber belajar peserta didik. Pembelajaran yang tidak menghiraukan prinsip
lingkungan akan mengakibatkan peserta hidup. Pengetahuan yang mungkin ia kuasai
belum menjamin pada vagaimana ia menerapkan pengetahuannya itu bagi lingkungan
yang ia hadapi.
Ada 2 macam cara menggunakan lingkungan sebagai sumber
pembelajaran/belajar, yaitu:
a.
Membawa peserta
didik dalam lingkungan dan masyarakat untuk keperluan pembelajaran
(karyawisata, service projects, school camping, interview, survei).
b.
Membawa
sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas pembelajaran untuk kepentingan
pelajaran (resources persons, benda-benda, seperti pameran atau koleksi).
5.
Prinsip
Konsentransi
Pada
saat proses pembelajaran berlangsung, seharusnya guru berupaya agar peserta
didik memusatkan perhatiannya (konsentrasi). Perhatian sebagai modus, tempat
berlangsungnya aktivitas. Bila perhatian ini sekehendak maka disebut sebagai konsentrasi; perhatian
terpusat.
Upaya untuk
mendorong peserta didik agar berkonsentrasi atau memusatkan perhatiannya dan
melakukan suatu penyelidikan serta menemukan sesuatu yang dapat diguanakan
kelak untuk kehidupan di dalam masyarakat,
maka pada setiap pembelajaran guru dituntut untuk dapat mengatur pelajaran
sedemijian rupa.
Secara psikologis, jika
memusatkan perhatiannya pada sesuatu, maka segala stimulus lainnya yang tidak
diperlukan tidak masuk dalam alam sadarnya. Akibat dari keadaan iniadalah
pengamatan menjadi sangat cermat dan berjalan baik. Stimulus yang menjadi
perhatiannya kemudian menjadi mudah masuk ke dalam ingatan, jika akan
menimbulkan tanggapan yang terang, kokoh dan tidak mudah hilang begitu saja
bahkan dapat dengan mudah di reprodusikan.
Di
saping itu, dengan adanya focus (pusat) perhatian atau konsentrasi, maka:
a.
Akan
membangkitkan minat peserta didik untuk menaruh perhatian dalam pembelajaran
dan menimbulkan daya konsentrasi itu sendiri.
b.
Dapat
mengorganisasikan bahan pelajaran yang menjadi suatu problem yang mendorong
peserta didik selalu aktif dalam hal mengamati, menyelidiki, memecahkan dan
menentukan jalan penyelesaiannya sekaligus bertanggung jawab atas tugas yang
diserahkan kepadanya.
c.
Dapat
memberikan stuktur bahan pelajaran sehingga merupakan totalitas yang bermakna
bagi peserta didik yang dapat digunakan untuk menghadapi lingkungan tempat ia
hidup.
6.
Prinsip
kebebasan
Pengertian kebebasan mengandung dimensi, yaitu :
a.
Self-directedness
b.
Self-discripline
c.
Self-control
Self-discipline
menyarankan pembuatan keputusan keputusan tentang tindakan-tindakan individu
didasarkan pada ukuran kebajikan meskipun menurut mazhab-mazhab filsafat
pengertian kebajikan itu sendiri relatif berbeda-beda. Self-discipline yang
sejati harus datang dari dalam diri individu itu sendiri, jika dipaksa dari
luar hanya akan berlansung selama ada orang yang memaksakannya atau memberikan
ancaman hukuman. Demikian pula Self-control harus dapat dari diri sendiri.
Beberapa pengarahan dan disiplin harus datang dari luar diri sehingga system
control individu dapat berkembang.
Guru mesti
menyadari bahwa tanggung jawab dalam pembelajaran khususnya untuk mengantarkan
perkembangan dan perubahan lebih maju bagi diri seseorang peserta didik seorang peserta didik tidak boleh melupakan
kenyataan bahwa suatu disiplin pada awalnya harus dipaksakan dari luar menuju
kea rah disiplin mandiri, khususnya disiplin yang menyangkut aktivitas dalam
kelas pembelajaran.
Jadi,
disiplin sebagai salah satu dimensi kebebasan perlu ditinjau bagaimana
pelaksanaan kebebasan termasuk di dalamnya disiplin, untuk kepentingan situasi
pembelajaran, atau guru dituntut berusaha
bagaimana penerapan suatu metode mengajar yang dapat mengembangkan
dimensi-dimensi kebebasan.
Setiap
peserta didik harus dapat mengembangkan diri dengan kebebasan. Untuk itu mereka
harus dibimbing sedemikian rupa sehingga mereka akan sanggup mandiri. Guru yang
telah menguasai peserta didik menjadi individu yang selalu dependen pada orang
lain dan insiatifnya menjadi beku.
7.
Prinsip
Peragaan
Peragaan,
meliputi semua pekerjaan panca indra yang bertujuan untuk mencapai/memiliki
pengertian pemahaman sesuatu hal secara lebih tepat dengan menggunakan
alat-alat indra. Alat indra merupakan pintu gerbang pengetahuan. Untuk mmiliki
suatu kesan yang terang dari peragaan makna individu harus mengamati bendanya
aatidak terbatas pada luasnya saja, tetapi harus sampai pada macam seginya,
dianalisis, disusun, dikomparasikan sehingga dapat memperoleh gambaran yang
lengkap.
Prof. A. Ghazali, MA, mengatakan
bahwa agar peserta didik mudah mengingat menceritakan, dan melaksanakan sesuatu
(pelajaran) yang pernah diamati (diterima dan dialami) di kelas, hal demikian
perlu didukung dengan peragaan-peragaan
(media pembelajaran) yang kongkrit. Apalagi individu-individu yang masih sangat
membutuhkan perangsang, sesuatu hal yang serba kongkrit jelas. Maka :
a.
Peserta didik
harus diberi perbendaharaan tanggapan yang besar, harus memberikan tanggapan
sebanyak-banyaknya dan pembelajaran berperaga.
b.
Bila guru
hendak mengajarkan sesuatu pada peserta didik, haruslah hal itu dipertautkan
pada tanggapan-tanggapan yang telah ada pada mereka.
c.
Bila guru
hendak mengajarkan kata-kata/istilah baru haruslah peserta didik disuruh
melihatnya, mendengarkannya, mengucapkannya, dan menyuruh menulisnya.
Dalam
pembelajaran berperaga diusahkan agar peserta ddik mengamati sesuatu dengan
teliti dan penuh perhatian. Dengan pembelajaran berperaga peserta didik
memperoleh pengetahuan baru terutama dengan pertolongan alat indranya.
Stimulus-stimulus dari luar termasuk bahan pelajaran meninggalkan bekas/kesan
atau tanggapan yang terang, tahan lama dalam ingatan, dan mudah direprodusikan
jika masuk ke daalam jiwa melalui alat indranya.
Ada dua macam peragaan, yaitu:
a.
Peragaan
langsung, dengan memperlihatkan bendanya sendiri, mengadakan percobaa-percobaan
yang dapat diamati peserta didik. Misalnya, guru membawa alat-alat atau
benda-benda ke dalam kelas pembelajaran dan ditunjukan kepada peserta didik
atau membawa peserta didik atau membawa peserta didik ke laboratorium,
pabrik-pabrik, kebun bianatang, dan sebagainya.
b.
Peragaan tak
langsung, dengan menunjukan benda-benda tiruan. Misalnya, gambar-gambar, film,
dan sebagainya.
8.
Prinsip Kerja
Sama dan Persaingan
Kerja sama atau
koperasi merupakan lawan dari persaingan. Dalam kehidupan sehari-hari kerja
sama dan persaingan sering terlihat di dalam kelas. Jean D. Grambs berpendapat
bahwa dalam pembelajaran di sekolah yang demokratis, baik kerja sama maupun
persaingan sama pentingnya. Hanya saja persaingan yang dimaksud bukan berarti
persaingan antar kelompok dan tidak
bertujuan untuk memperoleh hadiah atau kenaikan tingkat, tetapi untuk mencapai
hasil yang lebih tinggi atau pemecahan masalah yang dihadapi kelompok.
Untuk membentuk
inividu peserta didik menjadi manusia yang demokratis, guru harus menekankan
pelaksanaan prinsip keja sama atau kerja kelompok. Berkaitan dengan ini, Burton
sangat memperhatikan apa yang dinamakan group process atau proses
kelompok, yaitu cara individu mengadakan relasi dan kerja sama dengan individu
lain untuk mencapai tujuan bersama. Relasi dan keja sama dalam kelompok yang demokratis itu yakni setiap individu
berperan serta secara aktif dan ikut bekerja sama. Proses kelompok memikiki dua ciri utama, yaitu
peran serta individu dalam segala kegiatan, dan kerja sama antar individu dalam
kelompok. Tetapi, di dalamnya mungkin juga akan timbul persaingan. Persaingan
disini akan timbul secara sehat dan baik jika sebelumnya individu mendapat
arahan.
Ada dua jenis kerja kelompok menurut William Burton, yakni:
a.
Kerja kelompok
untuk memecahkan suatu proyek atau masalah dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1)
Merasa
ada/timbul masalah
2)
Identifikasi
dan analisis masalah
3)
Diseminasi
tugas
4)
Aktivitas
kelompok
5)
Penyelidikan
oleh kelompok
6)
Konklusi
b.
Diskusi
kelompok, untuk memecahkan suatu masalah yang menimbulkan berbagai pendapat.
Kemudian, agar
kerja sama kelompok berjalan baik, perlu diperhatikan beberapa prinsip berikut:
1)
Peserta didik
perlu mengenal dan memahami tujuan, rencana, masalah dan manfaat untuk mereka.
2)
Setiap anggota
memberikan masukan atau konstribusi
3)
Setiap individu
merasa bertanggung jawab pada kelompok
4)
Dikembangkan
peran serta dan keja sama secara efektif
5)
Perlu dicapai
prosedur yang demokratis dalam perencanaan, pelaksanaan, penyelesaian, dan
pembuatan keputusan.
6)
Pemimpin
kelompok perlu menciptakan suasana di mana setiap anggota mau menyumbangkan
buah pikirannya dan keja sama secara kooperatif.
7)
Gunakan
evaluasi terhadap kemajuan kelompok dalam berbagai segi, seperti: sosial,
kepemimpinan dan sebagainya.
8)
Diusahakan
menimbulkan perubahan konstruktif pada kelakuan seseorang
9)
Setiap anggota
merasa puas dan aman dalam kelompok kelas.
Maka, pada
setiap pembelajaran, guru hendaknya berupaya menciptakan suasana sosial yang
membangkitkan kerja sama diantara peserta didik dalam menerima pembelajaran
sehingga proses pembelajaran terlaksana lebih efektif dan efisien.
9.
Prinsip
Apersepsi
Apersepsi
(apperception) adalah suatu penafsiran buah pikiran, yaitu menyatu adukan dan
mengasimilasi suatu pengamatan dan pengalaman yang telah dimilki. Apersepsi
sebagai salah satu fenomena psikis yang dialami individu tatkala ada suatu
kesan baru yang masuk dalam kesadaran serta berasosiasi dengan kesan-kesan lam
yang sudah dimilki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang
luas.
Apersepsi
sering disebut “Batu Loncatan”, maksudnya sebelum pembelajaran dimulai untuk
menyajikan bahan pelajaran baru, guru diharapkan dapat menghubungkan lebih
dahulu bahan pelajaran (pembelajaran) sebelumnya yang menurut guru telah
dikuasai peserta didik. Apersepsi ini dpaat disajikan melalui pertanyaan untuk
mengetahui apakah peserta didik masih ingat/lupa, sudah dikuasai/belum,
hasilnya untuk menjadi titik tolak dalam memulai pebelajaran yang baru.
Apersepsi
itu dapaat membangkitkan minat dan perhatian terhadap sesuatu pembelajaran.
maka pembelajaaran harus dibangun melalui pengetahuan, sikap dan skill yang
telah ada. Herbart (1814) menyarankan emapt langkah pembelajaran, yakni:
a.
Kejelasan
pengertian
b.
Asosiasi
c.
System:
menghubungkan bahan baru dengan hal-hal lain
d.
Metode: tugas,
Tanya jawab, dan sebagainya.
Kemudian, Rein (Pengikut Herbart) menyarankan lima langkah
pembelajaran berikut:
1)
Preparasi (persiapan)
2)
Presentasi
(penyajian)
3)
Asosiasi
4)
Generalisasi
5)
Aplikasi
10. Prinsip Korelasi
Korelasi (saling berkaitan) akan menghasilkan
asosiasi dan apersepsi sehingga akan tumbuh dan bangkit minat peserta didik
terhadap pembelajaran. Pembelajaran yang dihubungkan dengan masalah-masalah
kehidupan keseharian individu maupun dihubungkan dengan bidang-bidang lain yang
bisa dikaitkan akan menjadikan sesuatu yang baru dan berguna bagi peserta
didik.
Peserta
didik perlu dilatih untuk menghadpai masalah-masalah hidup keseharian sekaligus
upaya pemecahannya dengan mendasarkan diri pada pengetahuan atau skill yang
diperoleh dalam pembelajaran. karenanya, dalam menyajikan materi (mata
pelajaran tertentu), guru seharusnya berusaha menggunakan dan menghubungkan
masalah-masalah pokok dalam kehidupan keseharian peserta didik. Sehingga hasil
pembelajaran itu akan membawa nilai guna bagi peserta didik. Guru hendaknya
juga berusaha menghubungkan bahan pembelajaran dari mata pelajaran yang sedang
diajarkan atau yang sedang dipelajari peserta didik dengan bahan pengajaran
dari mata pelajaran yang lain.
11. Prinsip Efisiensi dan Efektivitas
Suatu
pembelajaran yang baik adalah apabila proses pembelajaran itu menggunakan waktu
yang cukup sekaligus dapat membuahkan hasil (pencapaian tujuan instruksional) secara
lebih cepat dan cermat serta optimal. Waktu pembelajaran yang sudah
ditentukan sesuai dengan bobot materi
pelajaran maupun capaian tujuan instruksionalnya, diharapkan pada memberikan
sesuatu yang berharga dan berhasil guna bagi peserta didik.
Idealnya,
menurut hokum ekonomi, dengan modal yang minimum dapat mencapai hasil yang
optimum. Dengan penggunaan waktu pembelajaran yang efesien dapat membuahkan
hasil yang efektif. Dengan sedikit penjelasan dari guru diharapkan peserta
didik cepat memahami suatu pembelajaran. karenanya, ketepatan menerapkan metode
dan penggunaan pembelajaran berperaga perlu diperhatikan oleh para guru.
Waktu
pembelajaran seharusnya tidak terbuang sia-sia. Disiplin kelas dan disiplin
waktu perlu dihargai oleh setiap subjek pembelajaran. semua komponen
pembelajaran hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung efesien dan
efektivitas. Jadi, pembelajaran yang baik mestinya dapat berhasil guna dan
berdaya guna.
12. Prinsip Globalitas.
Menurut psinsip
globalitas/integralitas bahwa keseluruhan adalah menjadi titk awal
pembelajaran. peserta didik selalu mengamati keseluhan lebih dahulu baru
kemudian bagian-bagiannya. Di sini pendekatan deduktiflah yang ditekankan yaitu
mengenal pembelajaran kepada peserta didik dari pengertian/penjelas yang umum
kepada yang khusus, dari kaidah-kaidah umum kepada kaidah/kaidah yang khusus,
dari yang global ke yang spesifik, dari pengenalan system kepada elemen-elem
system.
Menurut
psikologi Gestalt, bentuk itu lebih banyak artinya daripada jumlah unsurnya dan
dari arti setiap unsur ditentukan oleh status dalam bentuk. Dalam pada itu,
psikologi totalitas berpandangan bahwa pada waktu peserta didik mengawasi
sesuatu untuk pertama kalinya, terbentuklah suatu gambaran yang komprensif
(menyeluruh) tetapi kabur (bagian-baginya tidak begitu jelas). Untuk
memperjelas gambaran pengamatan sampai pada bagian-bagiannya diperlukan
pengulangan.
Jadi, psikologi
Gestalt dan totalitas lebih memberikan sumbangan berharga bagi pengembangan
prinsip-prinsip globalitas pembelajaran.
13. Permainan dan Hiburan.
Pada
sarjana pendidikan berpandangan bahwa pada dasarnya setiap individu/peserta
didik sangat membutuhkan permainan dan hiburan setelah selesai belajar. Kelas
pembelajaran yang diliputi oleh suasana hening, sepi, serius dan penuh
konsentrasi terhadap pelajaran, maka akibat yang tidak di sadari (side effect)
menjadikan peserta didik menjadi kelelahan, bosan, capek, butuh refreshing,
istirahat, rekreasi dan sebagainya. Bahkan jika diperlukan, sesekali guru boleh
mengadakan refreshing, intermeso, atau selingan baik berupa humor atau dalam
bentuk lain-lain, ditengah aktifitas/proses pembelajran berlangsung, selama
tujuan refreshing itu baik dan proposional serta tidak menjadikan kelas
pembelajaran justtru lebih gaduh, pecah konsentrasinpeserta didik, dan
sebagainya.
14. PRINSIP PEMBELAJARAN BERBASIS WEB DAN ICT
Pembelajaran berbasis Web dibangun melalui
beberapa prinsip yang berperan dalam menentukan keberhasilan proses
pembelajaran ini pada implementasi. Hal yang membuat pembelajaran berbasis Web
ini efektif pada dasarnya bergantung pada pandangan dari pemengang kepentingan.
Oleh karenanya sangat sulit untuk menentukan prinsip utama yang setidaknya
harus ada dalam pembelajaran berbasis Web. Menurut Rusman (2011) prinsip
pembelajaran berbasis Web adalah:[5]
1.
Interaksi
Interaksi
berarti kapasitas komunikasi dengan orang lain yang tertarik pada topic yang
sama atau menggunakan pembelajaran berbasis Web yang sama. Dalam lingkungan
belajar, interaksi berarti kapasitas berbicara yang baik antarpeserta, maupun
antara peserta dengan instruktur. Interaksi membedakan antara pembelajaran yang
berbasis Web dengan pembelajaran berbasis computer (computer-Based
Instruction). Hal ini berarti bahwa mereka yang terlibat dalam pembelajaran
berbasis Web tidak berkomunikasi dengan mesin, melaikan dengan orang (baik
perseta maupun tutor) yang kemungkinan tidak berada pada lokasi bahkan pada
waktu yang sama.
Interaksi tidak
hanya menyediakan hubungan antarmanusia, tetapi juga menyediakan keterhubungan
isi, di mana setiap orang dapat saling membantu antar satu dengan yang lainnya
untuk memahami isi materi dengan berkomuniksi. Hal tersebut menciptakan lapisan
belajar terdalam yang tidak bisa diciptakan oleh pengembang media.
2.
Ketergunaan
Ketergunaan
yang dimaksud disini adalah bagaimana siswa mudah menggunakan Web. Terdapat dua
elemen penting dalam prinsip ketergunaan ini, yaitu konsistensi dan kesederhanaan. Intinya adalah bagaimana pengembangan
pembelajaran berbasis Web ini menciptakan lingkungan belajar yang konsistensi
dan sederhana, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan baik dalam proses
belajar maupun navigasi konten (materi dan aktivitas belajar lain).
3.
Relevansi
Relevansi
diperoleh melalui ketepatan dan kemudahan. Setiap informasi dalam Web hendaknya
dibuat sangat spesifik untuk meningkatkan pemahaman pembelajaran dan
menghindari bias. Menempatkan konten yang relevan dalam konteks yang tepat pada
waktu yang tepat adalah bentuk seni tersendiri, dan sedikit pengembangan
e-learning yang berhasil melakukan
kombinasi ini. Hal ini melibatkan aspek keektifan desain konten serta
kedinamisan pencarian dan penempatan konten (materi).
15. PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN
Salah
satu hal yang penting dalam proses belajar mengajar adalah bagaimana persepsi
atau kemampuan siswa dalam penerimaan materi yang telah di transfer. Penerimaan
materi atau persepsi siswa terhadap materi sangat berpengaruh terhadap
bagaimana siswa mampu memahami dan
menguasai materi pembelajaraan. Jika siswa mampu memahami dan menguasai
pembelajaran yang diterima maka tentu tujua pembelajaran dapat dicapai. Jika
peserta didik kurang mampu menerima dan mendapatkan persepsi yang benar pada
materi pembelajaran yang telah disampaikan dalam proses pembelajaran maka jelas
siswa tidak akan mampu memahami ataupun menguasai serta mencapai kompetensi yang
diharapkan. Bahkan bisa saja terjadi kesalapahaman atau penafsiran serta
persepsi yang salahterhadap suatu materi pelajaran yang disampaikan.
Oleh karena
itu, guru wajib memperhatikan bagaimana siswa mendapatkan persepsi yang benar
terhadap proses pembelajaran yang akan, sedang, maupun telah dilakukan. Perencanaan
yang baik serta pelaksanaan hingga evaluasi adalah hal yang wajib dilakukan
dengan seksama dan benar agar persepsi dan penerimaan siswa terhadap materi
tidak melenceng dari apa yang hendak dicapai. Terkait dengan persepsi dan
penerimaan materi dalam belajar, ada beberapa prinsip yang perlu diketahui dan
diperhatikan oleh guru, Slameto menyampaikan pentingnya mengetahui
prinsip-prinsp yang berkenaan dengan persepsi dan penerimaan materi dalam pembelajaran
tersebut, yaitu:[6]
1.
Makin baik
suatu objek, orang, peristiwa, atau hubungan diketahui, makin baik pula objek,
orang, peristiwa, atau hubungan tersebut unntuk dapat diingat siswa.
2.
Dalam
pengajaran menghindari salah pengertian merupakan hal yang harus dapat
dilakukan oleh guru sebab salah pengertian akan menjadikan siswa belajar
sesuatu yang keliru atau tidak relevan.
3.
Jika dalam
mengajarkan sesuatu guru perlu mengganti benda yang sebenarnya dengan gambar
atau potret dari benda tersebut, maka guru harus mengetahui bagaimana gambar
atau potret tersebut harus dibuat agar tidak terjadi persepsi yang keliru. Hal
ini berlaku juga untuk variasi media pembelajaran serta segala sesuatu yang digunakan dalam pembelajaran.
4.
Guru yang
menyadari pentingnya prinsip-prinsip persepsi dalam berlajar tersebut akan
mengusahakan agar siswa dapat memahami dan mendapatkan persepsi yang benar
terhadap materi pembelajaran. alasan di atas sangat jelas menunjukan bahwa
persepsi atau pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dapat sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Lebih lajut lagi tentunya
mempengaruhi dapat atau tidaknya peserta didik mencapai kompetensi yang
diharapkan sesuai yang telah disampaikan sebelumnya.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Agar lalu
lintas pembelajaran bisa berjalan lancar, teratur, dan terhindar dari beberapa
hambatan yang mengakibatkan pembelajaran tidak berjalan lancar dan teratur,
serta kemungkinan-kemungkinan lain seperti fasilitas peserta didik,
ketidaksesuaian, penerapan metode, ketidakpahaman terhadap materi, keterasingan
seorang peserta didik dalam suatu kelas pembelajaran, dan lain-lainnya, maka
seorang guru harus mengerti, memahami, dan menghayati berbagai prinsip
pembelajaran sekaligus mengaplikasikannya.
Prinsip
aktivitas, prinsip motivasi, prinsip individualitas, prinsip lingkungan,
prinsip konsentrasi, prinsip kebebasan, prinsip peragaan, prinsip kerjasama dan
persaingan, prinsip apresiasi, prinsip kolerasi, prinsip efesiensi dan
efektivitas, prinsip globalitas, dan permainan dan hiburan.
Guru wajib
memperhatikan bagaimana siswa mendapatkan persepsi yang benar terhadap proses
pembelajaran yang akan, sedang, maupun telah dilakukan. Perencanaan yang baik
serta pelaksanaan hingga evaluasi adalah hal yang wajib dilakukan dengan
seksama dan benar agar persepsi dan penerimaan siswa terhadap materi tidak
melenceng dari apa yang hendak dicapai. Terkait dengan persepsi dan penerimaan
materi dalam belajar, ada beberapa prinsip yang perlu diketahui dan
diperhatikan oleh guru
B.
SARAN
Sebagai seorang guru kita harus
memahami bagaimana prinsip-prinsip yang digunakan dalam pembelajan agar kita
dapat memberikan pengajaran yang sesuai dan efektif kepada anak didik kita.
Agar anak didik dapat menerima pembelajaran dengan baik dan tidak memiliki
perspektif yang salah dalam pembelajaran yang mita ajarkan.
DAFTAR PUSTAKA
Prof.
Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd., Drs. Abdul Karim Rauf, M.Pd.I. Desain
Pembelajaran.
[1]
Prof. Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd., Drs. Abdul Karim Rauf, M.Pd.I. Desain
Pembelajaran. hlm. 68
[2] Ibid.
hlm 68.
[3] Ibid.
hlm 70
[5]
https://www.google.com/amp/s/tepenr06.eordpress.com/2012/11/23/prinsip-prinsip-pembelajaran-berbasis-komputer/amp/.

Komentar
Posting Komentar